Hal-hal berkaitan dengan doa

Sumber : ad-Daa'wad Dawaa' karya Imam al-Allamah  Ibnu Qayyim al-Jauziyyah 

Penyakit ada di hati, roh, dan badan. Salah satunya, nabi pernah menyatakan bahwa kebodohan adalah suatu penyakit, lalu beliau menjelaskan bahwa obatnya adalah bertanya kepada ulama. Al-Qur'an juga merupakan obat. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam (QS. Al-Israa: 82) yang artinya "dan kami turunkan dari Al-Qur'an apa-apa yang menjadi obat penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman".  Al-Qur'an adalah obat penawar bagi hati dari penyakit kebodohan, keraguan, dan kebimbangan. Pernah di zaman Rosulullah S.A.W. sahabat melakukan rukyah dengan QS Al-Fatihah bagi kesembuhan kepala dusun yang tersengat kalajengking dan akhirnya sembuh. Obat Al-Fatihah telah memberikan dampak positif terhadap penyakit yang tertera dalam kisah di atas. 

Berkaitan dengan penyembuhan penyakit dengan Al-Qur'an tentunya ada satu permasalahan yang harus dipahami dan diperhatikan di sini. Dzikir-dzikir, ayat-ayat, doa-doa, ataupun obat-obatan yang dipergunakan untuk penyembuhan dan rukyah, walaupun pada hakikatnya bermanfaat dan mampu menyembuhkan, namun tetap saja mempunyai ketergantungan terhadap keadaan tubuh penderita dan kuatnya pengaruh yang mengobati. 

Hal yang sama juga terjadi pada doa. sesungguhnya doa termasuk sebab yang paling kuat untuk mendapatkan keinginan dan mencegah terjadinya hal-hal yang tidak dikehendaki. Meskipun demikian, terkadang doa tidak memberikan efek apapun karena pada dasarnya lemah misalnya doa yang tidak disukai Allah karena mengandung kedzaliman atau kelemahan hati orang yang berdoa serta tidak ada ketundukan kepada Allah seperti mengonsumsi barang haram, berbuat kedzaliman, tertutupnya hati dengan kemaksiatan, serta kondisi jiwa yang terkuasi dan terkalahkan oleh kelalaian dan nafsu syahwat. 

Disebutkan dalam Al-mustadrak karya al-Hakim dari Abu Hurairah bahwasanya Nabi bersabda: "Berdoalah kepada Allah dengan keyakinan bahwa doa kalian akan terkabul. Ketahuilah, sesungguhnya Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai dan tidak serius". 

Doa termasuk obat yang sangat bermanfaat sekaligus musuh bagi bencana. Ia akan memerangi, mengobati, mencegah, menghilangkan, atau mengurangi bencana yang menimpa. Doa aadlah senjata bagi orang mukmin. 

Ibnu Majah dalam Sunan-nya meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Hurairah "beliau mengatakan bahwa Rosulullah bersabda: "Barang siapa yang tidak meminta kepada Allah niscaya Allah akan murka kepadanya" 

Namun dalam mengaharapkan terkabulnya doa, jangan tergesa-gesa
Salah satu kesalahan yang dapat menghalangi terkabulnya doa adalah ketergesa-gesaan seorang hamba. Ia menganggap doanya lambat dikabulkan, lantas ia merasa jenuh dan letih, sehingga akhirnya meninggalkan doa. Ini ibarat orang yang menabur benih atau menanam tanaman, kemudian ia menjaga dan menyiraminya. Namun karena merasa terlalu lama menunggu hasilnya, orang itu pun membiarkan dan mengabaikan tanaman tersebut. 

Dari Shahiihul Bukhari terdapat sebuah riwayat dari Abu Hurairah, Nabi bersabda: "Doa seorang hamba akan senantiasa terkabul selama ia tidak berdoa untuk kemaksiatan, untuk memutus silaturrahim, dan tidak tergesa-gesa". Para sahabat bertanya: "Wahai Rosulullah, bagaimanakah bentuk ketergesa-gesaan yang dimaksud? Nabi menjawab: "Hamba tadi berkata: Aku telah berdoa, sungguh aku telah berdoa, namun Allah belum juga mengabulkan doaku. Ia merasa jenuh dan letih, lalu akhirnya meninggalkan doa". 

Waktu-waktu terkabulkannya doa
Doa itu akan dikabulkan jika di dalamnya terkumpul kehadiran hati, konsentrasi secara penuh terhadap apa yang diminta, dan bertepatan dengan salah satu dari enam waktu dikabulkannya doa, yaitu: 
1. sepertiga malam terakhir
2. saat adzan
3. antara adzan dan iqamat
4. setelah menjalankan shalat wajib
5. saat imam naik ke atas mimbar pada hari jum'at hingga selesai nya shalat jum'at tersebut
6. saat-saat terakhir setelah waktu Ashar 

syarat ini ditambah lagi dengan kekhusu'an hati serta sikap merendahkan diri di hadapan Allah yang diiringi dengan ketundukan dan kelembutan. 

Orang yang berdoa hendaknya menghadap kiblat, dalam keadaan suci, mengangkat kedua tangannya ke langit, lalu memulai doanya dengan hamdalah, memuji Allah dan mengucapkan shalawat kepada Nabi Muhammad S.A.W. selaku hamba dan utusan-Nya, mendahulukan taubat dan istighfar sebelum menyebut hajatnya, lantas menghadirkan dirinya di hadapan Allah, bersikap memelas dalam doanya, menyeruNya dengan ucapan lembut diiringi dengan rasa harap dan cemas, bertawassul (memohon) kepada-Nya dengan nama-nama, sifat-sifat, dan keesaan Nya, serta melakukan sedekah sebelum memanjatkan doa tersebut.  

Kita sering menjumpai doa sejumlah orang yang dikabulkan Allah. Doa tersebut kadang dipanjatkan ketika kondisi terjepit, dengan disertai ketundukan hati kepada Allah, bertepatan dengan waktu-waktu dikabulkannya doa dan atas dasar kebaikan yang pernah dilakukan sebelumnya sehingga Allah mengabulkan doa-doa  tersebut sebagai tanda syukur terhadap kebaikan orang yang berdoa seta hal-hal lain yang menyebabkan doa-doa terkabul. 

Keterkaitan doa dan takdir 
Apa yang ditakdirkan itu terjadi karena sejumlah sebab, diantaranya adalah doa. Tidak mungkin sesuatu ditakdirkan terjadi begitu saja tanpa adanya sebab. Ia pasti memiliki keterkaitan  dengan sebab. Jika seorang hamba mengerjakan sebab, maka terjadilah apa yang ditakdirkan, begitu pula jika ia tidak mengerjakannya, maka apa yang ditakdirkan itu tidak terjadi. Umar R.A. berkata: "sesungguhnya yang aku pentingkan bukanlah pengabulan, tetapi doa (permohonan) itu sendiri. Jika kalian berdoa, maka pengabulan akan ada bersamanya". 

QS. Al-Baqarah: 186
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku" 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

PEMBUATAN SISTEM DAN ALAT BERBASIS GEROBAK SORTIR DALAM UPAYA SOLUTIF PENANGANAN SAMPAH DARI RUMAH TANGGA KE TPS YANG PRODUKTIF

Resume Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 6 Tahun 2021 tentang cara dan persyaratan pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun

Sekolah Pilah Sampah