Cognitive Behavioral Therapy (CBT)
Berikut adalah bagian wawancara dengan Wiwit Puspitasari yang dikutip dalam buku Filosofi Teras, membahas mengenai pendekatan Cognitive Behavioral Therapy (CBT) dalam psikologi.
CBT adalah kombinasi dari terapi kognitif dan terapi perilaku. Terapi kognitif berfokus pada pikiran-pikiran yang sering kali irasional, salah, atau keliru sebagai sumber utama respon emosional seseorang. Sementara itu, terapi perilaku menekankan perubahan perilaku dengan menggunakan penguatan (reinforcement) atau hukuman (punishment).
Sebagai contoh, jika seseorang ingin menjalani program diet, pendekatan terapi perilaku akan mendorong mereka untuk membuat rencana, memberikan penghargaan jika berhasil, dan menetapkan konsekuensi tertentu jika gagal. Di sisi lain, terapi kognitif akan lebih fokus pada proses berpikir mereka, misalnya dengan mengeksplorasi apa yang mereka pikirkan saat melihat makanan, untuk memahami pola pikir yang mendasari perilaku mereka.
CBT menggabungkan kedua pendekatan ini, yaitu dengan menargetkan pikiran sekaligus perilaku. Sebagai contoh, seorang gadis muda yang sering gagal dalam hubungan percintaan mungkin menjadi apatis terhadap hubungan dan membenci laki-laki. Dalam CBT, langkah pertama adalah mengeksplorasi ketakutannya dan apa yang dia pikirkan tentang hubungan.
Misalnya, jika dia beranggapan bahwa "semua laki-laki itu bajingan," terapis akan mengajukan pertanyaan untuk menantang asumsi ini, seperti, "Siapa saja laki-laki dalam hidup kamu? Apakah ayahmu juga seperti itu?" Jika jawabannya tidak, terapis akan menunjukkan bahwa tidak semua laki-laki sesuai dengan generalisasi tersebut.
Pendekatan serupa juga diterapkan dalam konteks pekerjaan. Jika klien merasa bahwa mereka selalu gagal dalam karier, terapis akan menggali lebih dalam, "Bisa cerita lebih banyak tentang kariermu?" Ketika klien mengungkap bahwa mereka pernah mendapatkan promosi, terapis akan membantah pemikiran mereka dengan bukti nyata.
Meskipun proses ini mungkin tidak langsung mengubah cara pandang seseorang, pendekatan ini dapat memberikan wawasan baru. Dengan begitu, mereka dapat mulai mempertimbangkan sudut pandang yang lebih rasional dan konstruktif.
Komentar
Posting Komentar