Sukseskan Program Kampung Iklim (Proklim) dengan Pemilahan Sampah dan Penerapan 3R (Reduce, Reuse, Recycle)

 


Siapa bilang sampah yang tidak terkelola dengan baik hanya mengurangi estetika dan kebersihan lingkungan? Lebih dari itu, sampah juga meningkatkan emisi Gas Rumah Kaca

 

Sampah yang tidak terkelola dengan baik menjadi salah satu masalah yang terus menerus mengancam lingkungan dan perlu dicarikan solusinya hingga saat ini. Hal ini terlihat dari beberapa kondisi Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) yang terancam penuh seperti TPA Suwung di Denpasar, TPA Sarimukti di Bandung, TPA Piyungan di Yogyakarta, dan TPA Terjun di Medan (Greeneration.org, 2021).  Hal ini didukung dengan adanya fakta bahwa jumlah sampah di Indonesia meningkat dari tahun sebelumnya. Pada tahun 2020 tercatat timbulan sampah sebesar 67,8 Juta ton sedangkan pada tahun 2021 timbulan sampah di Indonesia mencapai 68,5 Juta ton (Maritim.go.id, 2022).

Permasalahan sampah membutuhkan solusi bersama antara berbagai pihak. Selain mencemari lingkungan, sampah juga berpengaruh terhadap perubahan iklim akibat Gas Rumah Kaca (GRK) yang dihasilkan. Pada peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) pada 21 Februari 2022, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengusung tema “Kelola Sampah, Kurangi Emisi, Bangun Proklim”. KLHK menargetkan penurunan GRK akibat timbulan sampah. Menurut Wakil Menteri KLHK, Alue Dohong, penurunan emisi GRK dari sektor persampahan sangat penting seperti upaya menahan gas buang melalui sistem pengelolaan siklik/rantai. Dengan demikian tidak ada material terbuang menjadi gas, dapat dimanfaatkan sebagai substitusi energi, energi alternatif dari sampah menjadi listrik, sampah organik menjadi pupuk, dan sampah sebagai bahan baku industri (PPID.Menlhk, 2022).

Pada kesempatan HPSN 2022 yang lalu, KLHK memberikan beberapa contoh program kampung iklim (Proklim) yang telah sukses. Hal ini menegaskan bahwa proklim saat ini menjadi perhatian KLHK. Proklim adalah program berlingkup nasional yang dikelola oleh KLHK dalam rangka keterlibatan masyarakat untuk melakukan penguatan kapasitas adaptasi terhadap dampak perubahan iklim dan penurunan emisi GRK. Komponen utama dalam proklim adalah adaptasi dan mitigasi. Pada tulisan ini, khusus akan dibahas mengenai isu mitigasi berupa pengelolaan sampah.



Pengelolaan sampah yang baik sangat diharapkan dan perlu menjadi perhatian khusus sehingga dapat memitigasi penyebab perubahan iklim sekaligus peningkatan emisi gas rumah kaca ke atmosfer. Oleh karena itu kita perlu terlibat dalam upaya mitigasi tersebut dengan mengelola dengan bijak sampah yang kita hasilkan. Lantas apa saja langkah-langkah yang perlu kita lakukan? Berikut ini merupakan alternatif yang dapat dilakukan oleh kita semua.

 

Ubah paradigma kumpul-angkut-buang (end-of-pipe) dengan pendekatan 3R (Reduce, Reuse, Recycle).

Jika pada tahun 2000an kita diberikan nasihat untuk tidak membuang sampah pada tempatnya. Maka sampah yang telah dibuang ke tempat sampah sebenarnya hanya dikumpulkan untuk selanjutnya diangkut dan dibuang ke TPA. Pada akhirnya praktik pengelolaan sampah tersebut hanya mengalirkan sampah dari hulu hingga ke hilir tanpa adanya proses daur ulang sampah. Menurut Sustainable Waste Indonesia, jumlah sampah yang didaur ulang hanya 7%, sampah tidak terkelola sebesar 24%, dan sebanyak 69% berakhir ke TPA (SWI, 2018). Pendekatan pengelolaan kumpul-angkut-buang sampah tersebut sudah saatnya kita ubah menjadi pendekatan berbasis 3R. Berikut ini akan dijelaskan mengenai konsep 3R yang perlu kita mulai terapkan pada diri kita sendiri.

1.      Reduce

Hal pertama yang perlu kita tanamkan dalam pengelolaan sampah adalah dengan berusaha untuk menghindari timbulan sampah. Beberapa hal yang dapat dilakukan adalah dengan membawa air minum dalam tumbler, menggunakan tas kain sendiri pada saat membeli barang di pasar maupun swalayan. Pengurangan sampah makanan juga menjadi hal penting saat ini, makanan yang tersisa menyebabkan banyak sampah organik yang timbul. Pada tahun 2020, jumlah sampah organik adalah 60% (Greeneration.org, 2021). 

 

2.      Reuse 

Jika kita tidak dapat menerapkan reduce karena suatu hal misalkan lupa dalam membawa tumbler. Kita bisa memanfaatkan penggunaan botol bekas air minum sebagai tempat pensil dan pot tanaman. Selain itu praktik reuse dapat juga menggunakan botol sabun mandi atau shampo untuk keperluan isi ulang produk tersebut (refill). Contoh lain dari praktik reuse adalah penggunaan ember cat bekas yang dapat digunakan sebagai tempat sampah.

3.      Recycle 

Daur ulang sampah adalah tahapan akhir sebelum sampah dibuang ke TPA. Biasanya daur ulang diterapkan oleh individu, bank sampah, maupun industri daur ulang sampah. Jika dibandingkan reduce dan reuse, aktivitas recycle membutuhkan usaha yang lebih dan terkadang membutuhkan teknologi untuk mengubah sampah menjadi produk baru yang bernilai. Bank sampah biasanya mendaur ulang sampah menjadi kerajinan seperti gantungan kunci dan tas dari kemasan sachet. Sedangkan industri daur ulang memanfaatkan sampah seperti plastik untuk diubah menjadi biji plastik ataupun dibuat menjadi produk lainnya. Dari beberapa jenis sampah, daur ulang sampah plastik lebih dominan dibandingkan dengan sampah an-organik lainnya. Dari segi jumlah, pada tahun 2021, sebanyak 17% atau sekitar 11,6 juta ton merupakan sampah plastic (CNNIndonesia, 2021). Peningkatan sampah plastik diakibatkan oleh kebiasaan pemakaian plastik sekali pakai terutama pada masa-masa pandemi Covid-19 yang kebanyakan masyarakat berbelanja secara online.  

 

Memilah sampah untuk meningkatkan daur ulang sampah

Recycle atau daur ulang sampah merupakan upaya yang perlu dilakukan untuk mencegah sampah masuk ke TPA. Namun upaya daur ulang sampah di Indonesia masih memiliki persentase yang rendah karena hanya sebesar 7% sampah yang didaur ulang (SWI, 2018). Kita bisa meihat contoh dari daur ulang plastik. Pada tahun 2021, kebutuhan industri daur ulang plastik hanya mampu dipenuhi sebesar 47% dari bahan baku sampah plastik yang ada di Indonesia. Sedangkan sisanya sebesar 53% dipenuhi dengan cara mengimpor sampah berupa scrap plastik dari beberapa negara lain (KLHK, 2021). Mengapa ada impor sampah plastik? Padahal sampah plastik di Indonesia sangat banyak dan bahkan menurut National Plastic Action Partnership (2020), 9% atau 620 ribu ton sampah plastik masuk ke sungai, danau, dan laut. Miris sekali ketika banyak sampah yang dihasilkan tetapi tidak termanfaatkan sehingga industri daur ulang sampah masih melakukan impor sampah plastik.

Selain dibuang ke lautan sehingga tidak dapat dimanfaatkan, sampah tercampur juga menjadi salah satu isu penting mengapa tingkat daur ulang sampah di Indonesia masih rendah. Sampah yang tercampur antara sampah organik dan an-organik sulit untuk didaur ulang. Walaupun dibersihkan, kualitas sampah akan menurun. Oleh karena itu, sampah perlu dipilah sesuai jenisnya yaitu sampah organik, an-organik, dan B3 (Bahan berbahaya dan beracun). 

“Percuma dipilah, jika nantinya tercampur lagi”

Kata-kata ini saya dengar saat saya melakukan wawancara dengan beberapa teman dan masyarakat di Bantul, Yogyakarta. Kondisi pemilahan sampah yang tidak konsisten ini juga menyebabkan menurunnya motivasi masyarakat dalam memilah sampah. Memang sistem pengangkutan sampah saat ini belum mendukung pemilahan sampah yang berkelanjutan. Namun kita harus terus menjaga lingkungan kita dengan cara memilah sampah dimulai dari diri sendiri dan keluarga kita.

Dalam hal pemilahan sampah, terdapat beberapa praktik seperti adanya penjadwalan pengangkutan sampah berdasarkan jenisnya. Selain itu, saat ini sudah mulai digunakan gerobak sampah pilah walaupun masih belum signifikan di beberapa daerah. Praktik-praktik inilah yang perlu ditingkatkan oleh kita semua. Pemilahan sampah dapat menjadi kegiatan yang menarik karena sampah yang terkumpul dapat secara langsung diolah menjadi bahan-bahan kerajinan.


Upaya mencapai SDG 12 dan SDG 13

Dengan melakukan beberapa praktik-praktik di atas, maka diharapkan kita semua dapat memberikan sumbangsih pada tujuan pembangunan berkelanjutan terutama pada goal 12 (sustainable consumption and production) dan goal 13 (climate action).  Sustainable development goals memiliki indikator-indikator untuk setiap goals. Penerapan pengelolaan sampah dengan cara menggiatkan pemilahan sampah dan aktivitas 3R dapat secara langsung mengurangi sampah yang ada di lingkungan maupun dapat juga mengurangi emisi GRK akibat gas metan yang ditimbulkan oleh gunungan sampah di TPA.  Berikut ini adalah beberapa indikator yang dapat dicapai jika kita melakukan praktik-praktik pengelolaan sampah dengan baik.

 

12.3.1.(a) Mengurangi persentase sisa makanan

Pada metadata SDGs yang dikeluarkan oleh Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas), terdapat target bahwa pada tahun 2030 terdapat penurunan separuh jumlah dari sampah pangan global perkapita pada tingkat retail dan konsumen.

 

12.5.1.(a) Jumlah timbulan sampah yang didaur ulang  

Jumlah timbulan sampah yang didaur ulang adalah jumlah timbulan sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam berbentuk padat (sampah rumah tangga, sampah sejenis sampah rumah tangga, dan sampah spesifik) yang melalui upaya pengurangan, pembatasan, dan pemanfaatan kembali. Jumlah timbulan yang didaur ulang dihitung dari berbagai tempat daur ulang termasuk dari recycle center (pusat daur ulang) skala kota yang sudah beroperasi.

 

13.2.2.(a): Potensi penurunan emisi gas rumah kaca (GRK)

Penurunan emisi GRK tahunan adalah penurunan emisi GRK tahunan melalui kegiatan yang dijalankan berdasarkan rencana kegiatan untuk lima sektor prioritas yaitu kehutanan dan lahan, gambut, pertanian, energi dan transportasi, industri, limbah serta ekosistem pesisir dan laut (blue carbon).

 

Referensi

http://ppid.menlhk.go.id/berita/siaran-pers/6415/peringatan-hari-peduli-sampah-nasional-kelola-sampah-turunkan-emisi-bangun-proklim , diakses pada 3 Juli 2022.

https://greeneration.org/media/green-info/tempat-pengelolaan-sampah-di-indonesia-terancam-penuh-apa-yang-bisa-kita-lakukan/ , diakses pada 3 Juli 2022.

https://maritim.go.id/mewujudkan-komitmen-nyata-penanganan-sampah-plastik-kemenko-marves/ , diakses pada 4 Juli 2022.

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20220225173203-20-764215/sampah-plastik-2021-naik-ke-116-juta-ton-klhk-sindir-belanja-online  ,diakses pada 3 Juli 2022

Metadata Indikator (Edisi II) Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional, 2020.

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PEMBUATAN SISTEM DAN ALAT BERBASIS GEROBAK SORTIR DALAM UPAYA SOLUTIF PENANGANAN SAMPAH DARI RUMAH TANGGA KE TPS YANG PRODUKTIF

Resume Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 6 Tahun 2021 tentang cara dan persyaratan pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun

Sekolah Pilah Sampah