Prototyping daur ulang plastik HDPE menjadi produk souvenir
Pada Mei 2022, saya dan tim Inowastek menjadi salah satu peserta terpilih dalam inkubasi bisnis Plastic Innovation Hub Indonesia yang diselenggarakan oleh CSIRO, Kedaireka, dan Kemendikbud RI. Kurang lebih dua bulan kami mendapatkan inkubasi dengan beberapa materi yang bertujuan untuk mempertajam analisis marketing research dan prototyping.
Kami dituntut untuk memetakan ekosistem yang ada dengan ecosystem map, membuat value proposition canvas, dan melakukan validasi atas asumsi-asumsi yang mungkin muncul dari berbagai stakeholder atas produk dan jasa yang kami tawarkan. beberapa kali pertemuan memberikan penekanan untuk tim agar melakukan interview sehingga dapat memberikan gambaran yang dapat digunakan dalam penentuan produk yang akan dilaunching.
Setelah melakukan interview dengan berbagai stakeholder, Inowastek memutuskan untuk membuat produk daur ulang plastik HDPE menjadi beberapa kerajinan dan ornamen dinding. bagaimana prosesnya? mari kita simak penjelasan selanjutnya ya guys 😀
Karena ini adalah salah satu bentuk rintisan business model inowastek selain pembuatan alat-alat kebersihan, ini merupakan kali pertama kami mendaur ulang plastik HDPE. Oleh karena itu langkah pertama yang kami lakukan adalah melakukan benchmark baik proses produksi maupun desain produk yang akan diuji coba.
Singkat cerita, setelah memenuhi beberapa peralatan yang digunakan untuk daur ulang HDPE terutama Oven listrik. Selanjutnya saya melakukan percobaan pembuatan daur ulang HDPE sekitar 2 bulan (ini tidak full time per hari ya, hehe). Kadang dalam seminggu hanya uji coba satu atau dua hari. Oh iya plastik HDPE yang dimaksud di sini adalah sampah tutup botol ya.
Oke setelah sudah membeli tutup botol plastik sebanyak 5 Kg di Bank Sampah Bersinar Bandung. Saya mulai percobaan pertama dengan proses pelelehan HDPEnya dulu. setelah beberapa kali uji coba, intinya adalah ada dua treatment uji coba yang saya lakukan yaitu melelehkan tutup botol tanpa dicacah dan tutup botol yang sudah tercacah (ini cacah botolnya bukan pakai mesin ya,, tapi gunting manual karena belum ada alatnya). Hasilnya lebih baik yang dicacah karena dapat dicampur dengan warna lainnnya dan polanya lebih bagus. Terkait suhu Oven, saya melelehkan HDPE di suhu antara 120-170 derajat celcius. Penting ya untuk selalu memperhatikan kesehatan dan keselamatan kerja dengan menggunakan APD seperti masker, sarung tangan.
Hal kedua yang perlu diuji coba adalah proses pembentukan dari lelehan (seperti dodol) HDPE menjadi bentuk yang diinginkan. Terdapat beberapa bentuk yang saya uji coba dan yang mudah adalah bentuk seperti keramik, bingkai, gantungan kunci, dan lain-lain. Cetakan yang digunakan dalam prototyping ini menggunakan cetakan kayu. Pada saat pencetakan, hal yang harus diperhatikan adalah cetakan tersebut ditekan sampai rata dan prosesnya harus cepat karena lelehan tersebut cepat mengeras. saya pernah diskusi dengan salah satu teman yang mempunyai background teknik material bahwa agar lebih lambat dalam proses pengerasan, lelehan hdpe tersebut dicelupkan ke dalam air. Terkait hal ini, teman-teman bisa cari-cari informasi lagi ya 👌
ok setelah beberapa bentuk produk terbentuk dengan pola yang baik tentunya, hasil cetakan kadang tidak rata sehingga proses finishing dilakukan dengan menggerinda atau mengamplas produk tersebut agar lebih rata dan halus.
penasaran dengan bagaimana produknya? ini dia beberapa produk hasil prototyping tim Inowastek


Komentar
Posting Komentar