Design Thinking sebuah framework yang memudahkan inovasi produk
Dalam sebuah pemecahan masalah dan pembuatan produk tentunya perlu memperhatikan keberhasilan agar produk tersebut dapat diterima oleh masyarakat ataupun konsumen. Sejak tahun 2016, pada saat saya mengikuti kegiatan bootcamp dalam Indonesia Sociopreneur Challenge 2016, saya mendapatkan beberapa materi mengenai sociopreneurhip salah satunya adalah design thinking yang diajarkan oleh ibu Dessy Aliandrina (Founder Sociopreneur Indonesia).
Pada tahun 2023 ini, saya diberikan kesempatan untuk menjadi fasilitator dari The Local Enabler (TLE) untuk membantu kegiatan Fordigi BUMN 2023. Salah satu topik bahasan adalah Design thinking yang diberikan kepada mahasiswa selama 3 hari berturut-turut. mengapa tiga hari berturut-turut? karena proses design thinking merupakan proses yang sekuential yang dalam tahapannya perlu direfleksikan dan diresapi dengan baik. Bisa saja dalam satu hari dapat menyelesaikan pengajaran mengenai seluruh proses di design thinking, namun nampaknya tidak seefektif jika kita mempelajari tahapan-tahapan design thinking sambil mempraktikannya tahap demi tahap. Lantas apa saja proses yang ada dalam design thinking?
Design thinking dimulai dari proses empati, define, ideate, prototype, dan test.
Proses empati merupakan tahapan yang paling awal dilakukan bagi siapapun yang ingin mengembangkan solusi atas suatu masalah. Tim diharuskan menelusuri informasi dari masyarakat seperti melakukan wawancara dengan topik yang telah ditentukan. Penggalian informasi dilakukan sebanyak-banyak kepada targeted people sehingga dapat mengetahui apa permasalahan yang perlu dicarikan solusinya. Dalam tahapan empati ini, kita juga perlu melakukan pemetaan persona map, kita perlu merumuskan siapa penerima manfaat (beneficiaries) / konsumen yang akan menggunakan produk/solusi dari kita. persona map ini berisikan informasi seperti pekerjaan, umur, kebutuhan, kekhawatiran, dan informasi lainnya.
Setelah melakukan proses empati, tahap selanjutnya adalah proses define, proses ini berusaha untuk mengetahui user journey map dan problem statement. user journey map adalah sebuah peta yang menggambarkan sebuah tahapan-tahapan yang dilalui oleh konsumen dalam mendapatkan sebuah produk/layanan. Inti dari user journey map adalah mengetahui proses bisnis mana yang perlu dicarikan solusinya. Selanjutnya kita perlu mendefinisikan problem statement.
Tahapan ketiga adalah ideate, denga menggunakan value proposition canvas. Terdapat informasi seperti pain dan gain yang perlu diidentifikasi kepada konsumen. Dari pain dan gain tersebut, kita perlu merumuskan solusinya berupa produk/jasa.
Tahapan keempat adalah prototipe, dengan tahapan ini, kita dianjurkan untuk tidak membuat produk nyata/ aslinya. nampun kita bisa membuat produk dengan skala kecil/ produk dengan bahan yang lebih murah/ bisa dibongkar pasang. Jika produk yang diharapkan adalah sebuah platform aplikasi/website, maka kita bisa juga membuat prototipe dengan membuat gambar layout saja yang menjelaskan user guidance.
Tahapan kelima adalah test, prototipe yang sudah jadi, dapat ditest dengan memberikan kuesioner kepada calon konsumen. Mereka diminta menilai bagaimana prototipe yang sudah dibuat dapat membantu solusi masalah mereka. Jika sudah baik, maka produk dapat dilanjtukan pengembangannya, jika dirasa kurang baik, maka kita perlu merumuskan kembali inovasi apa yang akan ditawarkan kepada masyarakat. Dengan demikian, jika terdapat respon yang kurang baik, maka kita perlu ke tahap awal yatiu melakukan empati secara lebih mendalam dan tepat sasaran.

Komentar
Posting Komentar